Sebagai seorang muslim tentunya kita harus mengimani akan adanya kehidupan akhirat setelah kita mati, karena mati adalah kepastian dan bukanlah akhir kehidupan tapi justru awal dari kehidupan yang baru, yaitu kehidupan akhirat yang merupakan pertanggungjawaban dan hasil dari kehidupan manusia di dunia.
Jika ada orang yang tidak mau beriman akan adanya kehidupan akhirat, maka pengaruh buruk akan mewarnai kehidupannya, misalnya ia tidak mau mengikuti ketentuan-ketentuan yang benar dari Allah dan lebih cenderung akan menghalalkan segala cara dalam mencapai segala keinginanya. Pandangan matanya hanya tertuju pada hal-hal yang bersifat dunia sehingga baik dan buruk pun dilihat dari apakah menguntungkan atau tidak secara duniawi.
Banyak hikmah yang didapat oleh orang yang beriman akan adanya kehidupan akhirat, diantaranya adalah ia akan bertingkah laku baik, meningkatnya ketaqwaan kepada Allah, tidak mau meniru pola hidup orang-orang kafir yang bebas tanpa nilai untuk mendapatkan kebahagiaan semu.
Allah berfirman dalam Al-Qur'an surat Ali Imran ayat 196-197, 'Janganlah sekali-kali kamu terpedaya oleh kebebasan orang-orang kafir bergerak di dalam negri, itu hanyalah kesenangan sementara, kemudian tempat tinggal mereka adalah jahannam, dan jahannam itu tempat yang seburuk-buruknya'.
Itulah peringatan dari Allah, agar orang muslim tidak tertipu dengan kemudahan dan kebahagiaan semu yang di dapat orang-orang kafir yang dilakukan dengan segala cara yang menyimpang dari aturan Allah, sehingga melupakan kebahagiaan kekal di akhirat kelak.
Wednesday, August 14, 2013
Friday, July 12, 2013
Memaknai Datangnya Bulan Ramadhan
Umat muslim tentunya sangat bergembira dengan kedatangan Bulan Ramadhan, banyak dari mereka yang mengucapkan 'Marhaban ya Ramadhan' yang artinya 'Selamat datang Ramadhan'.
Namun gembira dengan datangnya Ramadhan tak cukup hanya sekedar ucapan saja, tapi diperlukan bukti yang nyata dengan bertekad memerangi hawa nafsu sampai kita mampu mengendalikannya.
Bukti nyata itu bisa dilakukan diantaranya dengan mengingat dan memahami kembali kaifiyat atau tata cara pelaksanaan ibadah Ramadhan. Seperti syarat Wajìb Shaum, syarat sahnya shaum, yang membatalkan shaum, sunat-sunat dalam shaum, pelaksanaan Shalat taraweh dan aspek peribadatan lainnya.
Manakala Ramadhan dijalankan dengan baik sesuai dengan kaifiyat yang diperintahkan maka peningkatan ketaqwaan akan dapat diraih.
Allah Subhana Wa Ta'ala berfirman:
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu Shaum sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.(QS. Al-Baqarah 183).
Namun gembira dengan datangnya Ramadhan tak cukup hanya sekedar ucapan saja, tapi diperlukan bukti yang nyata dengan bertekad memerangi hawa nafsu sampai kita mampu mengendalikannya.
Bukti nyata itu bisa dilakukan diantaranya dengan mengingat dan memahami kembali kaifiyat atau tata cara pelaksanaan ibadah Ramadhan. Seperti syarat Wajìb Shaum, syarat sahnya shaum, yang membatalkan shaum, sunat-sunat dalam shaum, pelaksanaan Shalat taraweh dan aspek peribadatan lainnya.
Manakala Ramadhan dijalankan dengan baik sesuai dengan kaifiyat yang diperintahkan maka peningkatan ketaqwaan akan dapat diraih.
Allah Subhana Wa Ta'ala berfirman:
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu Shaum sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.(QS. Al-Baqarah 183).
Menjalani Bulan Ramadhan dengan kegembiraan, dapat membuat ìbadah Ramadhan yang terasa berat pun, Insya Allah akan menjadi terasa lebih ringan..
Jangan sampai kita melewati bulan Ramadhan begitu saja tanpa ada perbaìkan pada diri kita, tapi berusahalah dengan menjalani shaum Ramadhan yang sungguh-sungguh agar diri kita memiliki kepribadian yang tangguh dan iman yang kokoh dalam menghadapi berbagaì godaan hidup agar kita tidak terperosok ke lembah kehidupan Jahiliyah.
Subscribe to:
Posts (Atom)

